Aku tulis

09:29 Unknown 0 Comments


Aku ingin menulis apa yang ingin aku tulis. Tapi, aku tidak menemukan kata-kata yang pas. Tulisan ini sangat penting, aku bingung harus memulai darimana dulu, semua bagiannya penting. Ini tentang perasaan. Ah lagi-lagi perasaan, perkara apa lagi yang lebih penting dari perasaan.

Semoga kamu membaca tulisan ini. Karena kalau tidak, kamu tidak akan tahu yang sebenarnya. Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku masih menunggu, menunggu, menunggu. Aku masih percaya dengan keyakinan itu. Aku menunggu takdir kesekian yang akan mempertemukan kita lagi. Aku masih menunggu.

"Dan kamu! Kenapa kamu tiba-tiba datang!".

"Maksud kamu?",

Ahh sial, aku keceplosan lagi. Adri menunggu kalimatku selanjutnya. Kenapa orang baik ini mampir lagi, waktunya sangat tidak pas. "Itu a anu mas, aku sedang merampungkan novel sampai terbawa emosi sendiri hehee", aku berusaha bersikap setenang mungkin seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lama-lama aku bisa jadi artis juga kalau sering acting begini.

Tidak berubah. Orang yang dihadapanku tetap tenang dan dingin. Tidak peduli apa yang aku katakan benar apa tidak. Dia selalu menelan mentah-mentah ucapanku, percaya begitu saja. Berbeda dengan aku yang tidak mudah percaya dan selalu curiga. Dia kembali mengotak-atik laptop dan merampungkan pekerjaannya.

"Jika kamu tidak mencintai orangnya, belajarlah untuk mencintai kebaikan yang ada pada dirinya", itu nasehat nenekku dulu yang masih aku pegang hingga sekarang. Tapi, aku terjebak sendiri. Orang ini sangat baik. Teramat malah, hingga aku tidak tega berkata kalau aku tidak mencintainya. Aku mencintai orang lain. Aku juga tidak tahu apakan Adri benar-benar mencintaiku atau jangan-jangan hanya kasihan.

Kalau hanya kasihan.... Ah sudahlah, aku selalu berandai-andai dan membenarkan prasangkaku sendiri.

Tuhan. Aku menunggu takdir baik selanjutnya...
Berikanlah yang terbaik untuk Ardi, dia dan aku.

You Might Also Like

0 comments: