Showing posts with label Darwis Tere Liye. Show all posts

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Membaca novel, ibarat kita berpesiar memasuki jalan kehidupan orang lain, termasuk mengecap suka dan duka yang turut mewarnai. Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan situasi, menghubungkan satu peristiwa dan peristiwa lainnya dalam jalinan apik yang terikat satu sama lain pastinya akan membuat kita betah untuk terus menyimaknya. Dan sejenis bom atau kejutan di banyak tempat yang diletakkan oleh penulis dalam novel ini, menjadikannya sungguh seru dan menyegarkan.

Di sisi lain, novel ini juga bertabur hikmah dan pesan bijak yang terbungkus amat rapi dalam setiap peristiwa, sehingga memungkinkan kita mendapatkan berbagai pencerahan darinya

Kali ini, Tere Liye mengambil latar kehidupan nyata nan bersahaja di tepian Sungai Kapuas. Yang adalah kehidupan para pengemudi perahu kayu kecil bermotor di Sungai Kapuas yang dikenal dengan istilah sepit   ( diambil dari kata speed) berikut  penduduk yang melingkupinya. Para tokoh yang multi ras ( penduduk asli Pontianak, warga keturunan Cina, Batak, Dayak, dan Melayu ) yang hidup berdampingan dalam suasana kekerabatan yang erat menjadi salah satu pesan yang dikirimkan sang penulis.

Tersebutlah Borno, seorang anak pengemudi sepit dan tinggal di tepian Kapuas sebagai tokoh utamanya. Borno kecil sudah menunjukkan sebagai anak cerdas nan kritis. Salah satu pertanyaan ketika ia berusia 6 tahun adalah, jika seseorang buang air besar di hulu Kapuas, kira-kira buth berapa hari kotoran itu akan tiba di muara sungai, melintas di depan rumah papan mereka. Ia bertanya ke Bapaknya, ke Ibunya, ke rumah Koh Acong, pemilik toko kelontong, ke Cik Tulani, paman jauhnya. Dan hanya Pak Tua lah yang mampu selalu menjawab keingintahuan Borno. Jawaban yang diberikan Pak Tua selalu bisa memberi pengetahuan yang memperluas wawasan Borno. Dari situlah kedekatan hubungan keduanya terjalin dari hari ke hari. Hingga Pak Tua yang hidup membujang hingga usia senja menganggap Borno seperti anak sendiri. Begitu pula Borno, amat mengagumi dan menyayangi Pak Tua seperti ayahnya sendiri.

Saat usia Borno menginjak 12 tahun, ayahnya yang pengemudi sepit terjatuh dari perahu saat melaut dan tersengat ubur-ubur, sehingga ia kehilangan nyawanya saat di rawat di ruang gawat darurat. Sebelum ayahnya meninggal, beliau mendonorkan jantungnya untuk seseorang yang menderita gagal jantung dan telah lama mencari donor jantung. Ayah Borno memang terkenal sebagai pribadi yang sangat baik di masa hidupnya. Dan kebaikan terakhir yang dilakukannya adalah dengan mendonorkan jantung di RS tempat ia dirawat.

“Bapak belum mati!” aku berteriak marah. “Bapak belum mati. Kenapa dadanya dibelah!” Aku berusaha menyibakkan tangan ibu.

Aku bukan daun dan dia bukan angin



Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... 
daun yang tidak pernah membenci angin meski harus tereggutkan dari tangkai pohonnya.



Kadang aku merasa seperti Tania kalau lagi dalam suasana seperti ini, kadang merasa seperti Ratna kalau melihat ke belakang, kadang juga seperti Dede kalau lagi menasihati seseorang dan suka bermain lego, kadang seperti Danar yang suka menuliskan sesuatu yang sulit dijelaskan lewat ucapan. Tapi, aku selalu ingin menjadi seseorang, seperti arti namaku sendiri. 

Well, kalau kalian pernah membaca novel Daun yang Jatuh Tak Penah Membenci Angin, kalian pasti tau dengan Tania, Danar, Ratna dan Dede. Kalau belum pernah baca, yahh buruan baca deh. Dan jangan kecewa karena endingnya agak nyesek. Tapi walaupun nyesek, ini sudah kali kesekian aku membaca novel ini. Sebagai reminder. Apalagi kalau bacanya malem-malem kayak gini. Matiin semua lanpu kecuali lampu belajar, non aktifin juga seluruh gadget, hayati dan resapi tiap lembarnya, jangan segan untuk berhenti sejenak menarik napas untuk meredam nyesek, jangan lupa siapin tissu dan minuman. Soalnya ada bagian tertentu yang bikin air mata berontak ingin keluar dan abis nangis biasanya haus, dan tidak disarankan membaca sambil ngemil soalnya bisa bikin gemuk heheee.

Dalam tulisan ini aku tidak membahas detail alur ceritanya, baca saja sendiri novelnya. Tulisan ini hanya berfokus pada permasalahan cintanya.
Ok, let's bigin.

  • Sosok Tania dalam novel ini memiliki banyak sifat positif. Tania yang cerdas, cantik, dewasa, bertanggung jawab, menepati janji, tulus, setia, membanggakan dan berlapang dada. Tania yang menyeyangi keluarga. Tanialah tokoh utama dalam novel ini. 
  • Tania memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Dede. Dede adalah anak yang baik, sama seperti Tania dia juga menyayangi keluarganya, Dede tumbuh menjadi laki-laki yang tampan, cerdas, memiliki nalar yang tinggi. Dede juga tidak bisa diam, dia suka sekali memulai pembicaraan dan menyeletuk ketika sedang berkumpul dengan Danar, Tania dan Ratna. Dede juga suka bermain lego dan bercerita/berdongeng (gue banget hehee).
  • Tania jatuh cinta kepada pria baik hati yang bernama Danar yang usianya 14 tahun lebih tua darinya. Dia memanggilnya Om Danar. Seorang pemuda yang tampan, baik, murah hati, penyayang (seperti seseorang yang pernah ada dihatiku) dan menyukai anak-anak. Dia juga pandai menulis, banyak novel-novel karyanya yang laku keras dipasaran. Tapi, tidak ada yang tau kalau penulisnya bernama Danar, kecuali Tania dan Dede. Dia menggunakan "nama pena" sebagai pengarang novel.
  • Danar memiliki kekasih yang bernama Ratna, kak Ratna. Aku sebel dengan tokoh Ratna dalam novel ini, sekaligus kasihan. Ratna adalah perempuan yang baik, menyenangkan, cantik, pengertian, penyabar dan tulus. Ratna sangat menyayangi Danar sehingga tidak begitu menyadari perasaan yang sebenarnya Danar simpan diam-diam.

Cinta adalah rasionalitas sempurna


Aku menghela nafas perlahan, bertanya perlahan, berusaha memutus suasana canggung lima menit terakhir, “Apa kau baik-baik saja?” 

Alysa mengangkat kepalanya, mengangguk. “Apa kau baik-baik saja,” Alysa balik bertanya pelan.
Aku tertawa getir. Menggeleng.

Diam sejenak. Sungguh hatiku tidak baik-baik saja.Bulan purnama menggantung di angkasa. Senyap? Sebenarnya tidak juga. Suara debur ombak menghantam cadas di bawah sana terdengar berirama. Tetapi pembicaraan ini membuat sepi banyak hal. Hatiku. Mungkin juga hati Alysa. Rumah makan yang terletak persis di jurang pantai eksotis ini tidak ramai. Hanya terlihat satu dua pengunjung, membawa keluarga mereka makan malam. Bukan musim liburan, jadi sepi. Kami duduk berhadapan di meja paling pinggir. Menyimak selimut gelap lautan di kejauhan.

“Maafkan aku.” Alysa menggigit bibir. Tertunduk lagi.

Aku menatap wajahnya lamat-lamat. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah berlalu. Tertinggal jauh di belakang.” Aku menelan ludah. Berusaha menjawab bijak—aku tahu itu bohong, pura-pura bijaksana.

Hening lagi sejenak.

”Sungguh maafkan aku,” Alysa menyeka sudut-sudut matanya, ”Aku tidak pernah tahu akan seperti ini jadinya.”

Aku menggeleng, “Kau tidak harus minta maaf, meskipun seharusnya kau tahu, sehari setelah kau memutuskan pergi, aku lelah membujuk hatiku agar tegar, tetapi percuma. Menyakitkan. Semua itu membuat sesak. Kalimat itu mungkin benar, ada seseorang dalam hidupmu yang ketika ia pergi, maka ia juga membawa sepotong hatimu. Alysa, kau pergi. Dan kau bahkan membawa lebih dari separuh hatiku.”

Mekar

Malam ini aku sengaja pulang malam, bukan karena lembur atau ada meeting di kantor. Tapi, aku berniat merapikan isi ruanganku, sepertinya harus di ubah tata letaknya untuk memberi sedikit nuansa yang berbeda setelah dua tahun yang melelahkan, dua tahun yang menguras perasaan, dua tahun yang lebih dari cukup membuatku mengerti arti cinta dengan pemahaman yang baru dari segala sudut-sudutnya yang bahkan dengan tinta seluas samudera Atlantikpun tak akan habis untuk menuliskan makna cinta.

Pukul 17.00 harusnya sekarang  aku menghabiskan weekend bersama Linda atau sekedar minum kopi untuk menghilangkan kepenatan. Ah, sudahlah. Mungkin dengan cara ini sedikit kesedihanku akan terkikis. Apakah aku bersedih? Tentu saja. Tapi, aku akan lebih bersedih lagi jika tidak melakukan hal itu. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Yang pasti aku tidak tega merampas kebahagiaan anak-anak itu. Mungkin saat itu Rosie sudah ikhlas melepas Tegar untukku tapi, anak-anak itu? Mereka lebih membutuhkan kasih sayang Tegar. Mereka butuh seorang ayah yang selalu melindungi mereka dan membuat mereka merasa nyaman. Bukankah hakikat cinta adalah melepaskan? Aku belajar satu lagi pemahaman cinta dari sudut yang berbeda.

“Sekar, kau lupa dengan janjimu malam ini?” Suara Linda membuyar lamunanku.

“Kau ini. Tanpa salam. Tanpa mengetuk pintu main nyelonong aja masuk ke ruanganku. Memangnya ada janji apa? Aku sudah mengosongkan jadwalku malam ini. Aku ingin membereskan ruanganku dan sedikit ingin mengubah tata letaknya agar lebih indah.”

“Bukankah malam ini kita akan nonton film kesukaanmu? Kenapa kau tiba-tiba pelupa begini?”

“Astaga... Iya, aku benar-benar lupa maafkan aku. Tapi, sunggu aku tidak berminat lagi untuk menonton film itu. Aku ingin membereskan kantorku, membereskan ruang kerjaku”.

“Ya sudahlah, percuma saja membujuk orang yang lagi patah hati, seribu kata keluarpun tidak akan dihiraukan. Selamat menyibukkan diri Sekar. ”

Aku hanya melambaikan tangan, kemudian punggungya berlalu meninggalkan ruanganku.

 Empat puluh tujuh menit berlalu, sedikit sentuhan lagi ruangan ini akan menampakkan kesan lebih elegan. Yapp, Sempurna. Sentuhan bunga Mawar biru favoritku menyempurnakan keeleganan ruangan ini. Ah, mawar biru. Kenapa aku juga menyukai mawar biru seperti Rosie. Kenapa kami punya selera yang sama untuk urusan yang satu ini. Rosie sungguh kau adalah wanita yang sangat beruntung. Memiliki empat kuntum bunga dan Tegar yang selalu mencintaimu.  Kau pantas mendapatkan semua keindahan hidup ini Rosie. Tapi, apakah aku juga punya kesempatan itu? Aku juga ingin memiliki keluarga. Aku sama seperti wanita lainnya yang ingin dicintai sepenuhnya tanpa ada bayang-bayang masa lalu. Tanpa terasa air mataku menetes membasahi dokumen-dokumen usang ini.